Sunk Cost

March 13, 2026 by
Sunk Cost
Panca Putra Pakpahan

Pak Hendra sudah keluar Rp 600 juta.


Untuk ERP yang sampai hari ini belum benar-benar dipakai.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Ceritanya dimulai 18 bulan lalu.


Dia owner perusahaan distribusi spare part otomotif di Surabaya. Omzet belasan miliar. Tim 40 orang. Dan satu masalah klasik: data keuangan selalu telat, stok sering salah, laporan harus nunggu akhir bulan.


Seorang teman merekomendasikan Odoo.


"Pak, ini solusinya. Satu sistem, semua terintegrasi."


Demo-nya memukau. Sales vendornya fasih. Kontrak ditandatangani.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Bulan 1–3: Semangat.

Bulan 4–6: Mulai ada keluhan dari tim.

Bulan 7–9: Go-live tertunda. Terus tertunda.

Bulan 10–12: Sistem jalan, tapi setengah-setengah.

Bulan 13–18: Karyawan masih pakai Excel. Odoo cuma buat laporan ke owner.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Pak Hendra tahu ada yang salah.


Tapi dia tidak bilang apa-apa.


Bukan karena tidak berani.

Tapi karena mengakui kegagalan ini artinya mengakui bahwa

Rp 600 juta-nya... hilang.


Dan itu terlalu menyakitkan.


Jadi dia pilih diam.

Terus bayar maintenance.

Terus berharap "nanti juga baik sendiri."


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Ini namanya vendor lock-in psikologis.


Bukan karena kontraknya mengikat.

Bukan karena tidak ada pilihan lain.


Tapi karena otak manusia tidak mau mengakui sunk cost.


Kita sudah terlanjur keluar banyak,

maka kita terus bertahan —

bukan karena sistemnya bagus,

tapi karena melepasnya terasa seperti kekalahan.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Setiap bulan dia bertahan,

dia sebenarnya sedang keluar biaya baru yang tidak terlihat —


→ Produktivitas tim yang tidak optimal

→ Keputusan bisnis lambat karena data tidak akurat

→ Karyawan frustrasi yang pelan-pelan resign

→ Opportunity cost dari pertumbuhan yang tertahan


Rp 600 juta sudah pergi.

Tapi kerugian yang tidak terlihat itu terus berjalan setiap hari.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Lantas apa yang seharusnya dilakukan?


Jawaban jujurnya: tergantung.


Karena akar masalahnya tidak selalu sama.


Setelah mendalami kasus-kasus seperti ini,

saya menemukan setidaknya tiga sumber masalah yang berbeda —

dan masing-masing butuh solusi yang berbeda pula.


🔴 Masalah ada di internal perusahaan

Proses bisnis belum siap. Data kotor. Tim tidak disiplin pakai sistem. Change management tidak berjalan. Di sini, ganti vendor pun tidak akan menyelesaikan masalah.


🟡 Masalah ada di vendor — dan ini lebih sering terjadi dari yang diakui

Vendor oversell kemampuan. Konsultan yang ditugaskan junior. Metodologi implementasi tidak terstruktur. Bahkan beberapa nama besar — termasuk yang masuk top 10 Odoo Partner — tidak menjamin kualitas eksekusi di lapangan. Badge dan sertifikasi tidak otomatis berarti tim mereka paham bisnis kamu.


🔵 Masalah ada di keduanya

Ini yang paling sering. Dan yang paling sulit diakui oleh kedua belah pihak.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Maka pertanyaan yang perlu dijawab jujur bukan

"Ganti sistem atau tidak?"

"Ganti vendor atau tidak?"


Tapi:


"Di mana sebenarnya akar masalahnya?"


Karena kalau akarnya di vendor, ganti sistem tidak akan membantu.

Kalau akarnya di internal, ganti vendor pun hanya memindahkan masalah.

Kalau akarnya di keduanya, harus diselesaikan dari dua sisi sekaligus.


Odoo yang sama bisa berhasil di satu perusahaan

dan gagal total di perusahaan lain —

bukan karena sistemnya berbeda,

tapi karena konteks dan eksekusinya berbeda.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Pak Hendra itu fiktif.


Tapi saya sudah bertemu belasan "Pak Hendra" yang nyata.

Sebagian masalahnya ada di vendor.

Sebagian ada di diri mereka sendiri.

Sebagian ada di keduanya.


Yang membedakan yang berhasil keluar dari situasi ini

adalah keberanian untuk jujur terlebih dahulu.


Kalau kamu sedang di posisi Pak Hendra —

atau curiga kamu sedang menuju ke sana —


DM saya.

Bukan untuk menjual solusi.

Tapi untuk membantu kamu menemukan di mana akar masalahnya.


#Odoo #ERP #Distribusi #ImplementasiERP #BusinessOwner #SunkCost #OdooPartner #Indonesia

in Blog
Sunk Cost
Panca Putra Pakpahan March 13, 2026
Share this post
Tags
Our blogs