Kustomisasi Odoo itu mudah. Tapi kustomisasi Odoo yang benar? Itu cerita lain.
Setelah bekerja sama dengan banyak developer Odoo di Indonesia, kami menemukan pola yang hampir selalu berulang: modul selesai dibuat, client senang, tapi tiga bulan kemudian sistem error saat upgrade, bug muncul di production, dan tidak ada yang tahu kenapa kode itu ditulis seperti itu.
Masalahnya bukan di kemampuan coding. Masalahnya ada di proses sebelum coding dimulai — dan pada tekanan yang datang jauh sebelum itu.
Akar Masalahnya: "Yang Penting Murah dan Jadi"
Mari kita jujur soal kondisi pasar Odoo di Indonesia.
Banyak client datang dengan mindset: "Odoo kan open source, harusnya murah kan?" Project dimenangkan dengan harga terendah. Scope dikompres. Timeline dipangkas. Dan di ujung rantai tekanan itu, developer harus mengorbankan sesuatu agar project tetap masuk akal secara ekonomi.
Yang pertama dikorbankan? Unit test.
Bukan karena developernya malas atau tidak kompeten. Tapi karena menulis unit test yang baik membutuhkan waktu — dan waktu itu tidak ada dalam budget yang sudah terlanjur tipis.
Hasilnya? Modul yang "jalan" tapi rapuh. Kode yang tidak ada yang berani disentuh karena takut merusak hal lain. Dan suatu hari nanti, bom waktu itu meledak.
Bisa saat upgrade versi Odoo. Bisa saat ada perubahan requirement kecil. Bisa saat developer aslinya sudah tidak bisa dihubungi. Dan biaya perbaikannya? Jauh lebih mahal dari biaya membuat unit test sejak awal.
Proses yang Benar Sebelum Satu Baris Kode Ditulis
Modul Odoo yang berkualitas dimulai jauh sebelum coding. Berikut tiga fondasi yang tidak boleh dilewati:
1. Gap Analysis yang Serius
Sebelum menulis kode apapun, pahami dulu apa yang sudah tersedia di Odoo standard. Odoo memiliki ribuan fungsi built-in yang sering diabaikan karena developer langsung melompat ke pendekatan "bikin dari nol." Akibatnya terjadi duplikasi logika, technical debt yang menumpuk, dan modul yang sulit di-maintain.
Gap analysis yang baik menjawab tiga pertanyaan: apa yang sudah ada di Odoo standard, apa yang bisa di-extend tanpa ditulis ulang, dan apa yang benar-benar perlu dibuat dari awal. Fondasi ini menentukan kualitas seluruh proses pengembangan berikutnya.
2. Filosofi Reuse → Extend → Create
Prinsip sederhananya: kalau Odoo sudah punya fungsinya, gunakan. Kalau perlu dimodifikasi, extend. Baru kalau benar-benar tidak ada, buat sendiri.
Pendekatan ini bukan hanya soal efisiensi waktu pengembangan. Lebih penting dari itu, modul yang mengikuti filosofi ini jauh lebih mudah di-maintain, lebih stabil saat Odoo merilis versi baru, dan lebih mudah dipahami oleh developer lain yang kelak akan meneruskan project tersebut.
3. Unit Test: Wajib, Bukan Opsional
Ini yang paling sering menjadi perdebatan dalam ekosistem Odoo di Indonesia.
Dari pengalaman berkolaborasi dengan banyak developer lokal, sangat sedikit yang benar-benar memahami pentingnya unit test — dan lebih sedikit lagi yang mau mengerjakannya tanpa tekanan dari luar. Alasan klasiknya selalu sama: "Nanti memakan waktu," "Projectnya deadline," atau "Kalau manual testing sudah oke, kenapa perlu unit test?"
Unit test bukan soal perfeksionisme. Ini adalah jaring pengaman yang melindungi sistem kamu dari efek domino yang tidak terprediksi setiap kali ada perubahan. Tanpa unit test, tidak ada cara yang andal untuk memastikan bahwa perubahan di satu bagian sistem tidak merusak bagian lain yang tampaknya tidak berkaitan.
Standar ini pula yang diterapkan oleh Odoo Community Association (OCA) — setiap modul yang dikontribusikan ke komunitas global wajib menyertakan unit test. Bukan sekadar aturan formal, tapi karena itulah standar kode yang bisa dipercaya, di-review, dan di-maintain oleh siapapun di seluruh dunia.
Pesan untuk Client dan Developer
Untuk client: harga murah hari ini bisa menjadi biaya darurat yang sangat mahal di kemudian hari. Sistem yang error di production, data yang tidak konsisten, atau migrasi versi yang gagal — semua itu memiliki biaya yang jauh lebih besar dari investasi kualitas di awal. Anggap biaya engineering yang proper bukan sebagai pengeluaran, tapi sebagai asuransi untuk keberlangsungan bisnis kamu.
Untuk developer: tekanan ekonomi dari harga project yang rendah memang nyata dan kami memahaminya. Tapi ketika kita terus menurunkan standar demi memenangkan project, kita sedang ikut membangun ekosistem yang pada akhirnya merugikan semua pihak — termasuk reputasi kita sendiri sebagai profesional.
Standar Modul Odoo yang Berkualitas
Sebagai ringkasan, berikut checklist yang kami terapkan dalam setiap pengembangan modul Odoo:
✅ Diawali gap analysis yang mendalam terhadap fitur Odoo standard ✅ Memaksimalkan reuse dan extend fungsi yang sudah ada ✅ Ditulis dengan clean code dan dokumentasi yang jelas ✅ Dilindungi unit test yang komprehensif ✅ Siap di-maintain oleh developer lain, bukan hanya pembuatnya ✅ Kompatibel dengan standar OCA untuk keterbacaan dan kualitas kode
Kustomisasi yang terburu-buru hari ini adalah hutang teknis yang harus dibayar besok. Ekosistem Odoo Indonesia punya potensi yang sangat besar — dan kami percaya kita bisa membangunnya di atas standar engineering yang lebih kuat.
PT Solusi Aglis Indonesia adalah kontributor aktif Odoo Community Association (OCA) dan spesialis implementasi serta kustomisasi Odoo untuk bisnis di Indonesia.
Kenapa Kustomisasi Odoo Kamu Jadi Bom Waktu — dan Cara Mencegahnya